Kenapa Harus Saya?

Datang di depan meja kerja saya dengan beberapa lembar kertas di atas sebuah map warna kuning yang terlipat, sebuah kalimat ajakan dengan intonasi yang sedikit memelas ditambah raut wajah yang lumayan berharap membuat lidah saya tegas mengatakan “iya, pake saja”. Senyum dan raut wajah kegembiraanpun terpancar setelahnya. Keyakinanku mengatakan, perasaan lega adalah pemicu lahirnya senyum dan kegembiraan itu, setelah beberapa hari bergelut dengan imaginasi mencari solusi yang menurutnya ada sedikit permasalahan dari tugas yang menjadi tanggung jawabnya.

Beberapa kali kejadian serupa terjadi dengan rekan dan situasi yang berbeda. Alasan yang akhirnya saya dapatkan adalah “saya bisa diajak kerja sama”. Alasan yang sulit saya terima. Kenapa? Menurut saya konotasinya tidak baik dan saat ini saya berusaha agar kejadian serupa tidak akan terulang.

Dua fakta yang saya sadari dan temukan dari kejadian itu. Pertama, saya hanya butuh 3 kata dan waktu lebih kurang 1 detik untuk menyelesaikan permasalahan rekan saya dan saya cukup bangga dengan itu. Fakta yang kedua saya telah mempertaruhkan martabat saya untuk jangka waktu tertentu yang saya sendiri tidak mengetahuinya atau saya telah mengaklamasikan sesuatu yang tidak jelas untuk diri saya dalam jangka waktu yang saya sendiri juga tidak mengetahuinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *